Sabtu, 11 Agustus 2018

The most wanted Jepit Jemuran

Seringkali ibu saya ngomel-ngomel, "kemana yaa jepit jemuran Nenek kok pada hilang yaaa?" Maklumlah, kami masih tinggal di rumah orang tua saya saat di Indonesia, sehingga "tersangka" utamanya mudah sekali ditebak, cucu laki-laki satu-satunya yang paling kreatif di rumah : ARYA. Hehe.

Dari kecil, Arya suka sekali mainan jepit jemuran. Dibentuk-bentuk robot, binatang, atau apapun yang dia mau. Makanya saya sering pesan ke ibu saya, kalau beli jepit jemuran sekalian belikan khusus buat Arya main, jadi ngga mengganggu aktivitas jemur-menjemur.
Sudah dibelikan, entah kenapa tetap saja yang disasar itu punya neneknya, padahal bentuknya sama aja. Mungkin merasa tertantang gitu ya kalo ngambil punya neneknya?
Sudah sampai Belanda pun, hobinya masih sama, main jepit jemuran. Saya khusus bawa beberapa pak jepit dari Indonesia, walaupun disini juga ada, tapi mudah rusak. Sudah stok banyak, saat mau jemur masih susah juga dicari, nasiiib, hahaha. Ternyata ya, mainan itu ngga harus selalu mahal. Lego dan mainan-mainan lain sudah disediakan, tapi jepitan still number one.

Pretend play Supermarket

Pretend play memang asyik, kali ini Arya punya ide untuk main supermarket. Barang-barang dijejer di sofa sebagai barang belanjaan. Plastik belanja supermarket yang biasa dipakai mamanya belanja juga sudah dia siapkan.
Arya juga yang jadi sutradaranya, ngatur mamanya supaya panggil dia yang saat itu bertugas sebagai karyawan supermarket untuk menanyakan dimana letak barang yang saya butuhkan. Lalu gimana dengan meja kasirnya? Kan Arya ngga punya mesin kasir mainan? Jangan sediiih, ternyata dia sudah menyiapkan kalkulator yang di selipin kertas di belakangnya, terus nanti kertasnya bisa ditarik seolah-olah itu bon belanjanya, beserta wadah-wadah kecil yang berfungsi sebagai tempat koin. Kreatif!

Gambar pemandangan yang fenomenal

Ingat kan, kalau kita disuruh gambar pemandangan sudah pasti bentuknya akan seragam semua? Karena waktu kecil, para bapak dan ibu guru kita dulu mencontohkan gambar apa yang harus kita buat, bukan membebaskan kita untuk menggambar pemandangan sesuai dengan imajinasi masing-masing.

Belajar dari pengalaman tersebut, saya tidak pernah mendikte Arya dalam menggambar, bahwa kalo gambar ini harus begini, gambar itu harus begitu. Itu kan imajinasi menurut saya, belum tentu sama dengan imajinasinya. Menurut saya, membebaskan anak menggambar sesuai imajinasinya akan terus menumbuhkan kreativitasnya. Kali ini saya minta Arya untuk menggambar gunung, pengen tau dong gambar gunungnya sama apa ngga dengan gambar hampir semua mama di seluruh Indonesia, hehe. Gambar sudah selesai, dengan bangga Arya mempersembahkan gambar gunung pada mamanya..

Alhamdulillah, gunungnya sesuai dengan imajinasinya sendiri plus extra minions penjaga gunung.

Roll tissue

Akhir-akhir ini Arya rajin sekali ganti tissue wc setiap tissuenya habis. "Kasih tau ya Ma kalo habis, aku aja yang ganti." Atau dia dengan rajinnya ngecek ke wc apa sudah habis atau belum. Pernah sekali saya lupa, saya pasang sendiri tissue roll yang baru, lalu dia protes.
Suatu hari, saya dampingi dia ganti tissue lalu saya minta kertas roll bekas dalaman tissue untuk saya buang. Eh nggak boleh dong, katanya "Aku lagi kumpulin ini ma, untuk buat sesuatu". Ooh rupanya ini sebabnya dia jadi rajin pasang tissue baru. Jadi ngga sabar pengen liat apa yang akan dia buat dengan roll kertas tersebut.

Jumat, 10 Agustus 2018

Farewell souvenir

Akhir bulan Agustus ini kami akan pulang ke Indonesia karena masa studi Papa sudah selesai, Alhamdulillah. Hal ini berarti Arya tidak akan masuk sekolah lagi setelah libur summer. Nah, tradisi di sekolah ketika ada yang akan pindah atau pulang ke negara asalnya adalah mengadakan perpisahan sederhana di kelas dengan membawa sedikit makanan atau souvenir untuk kenang-kenangan.
Kalau beli mainan atau makanan diluar pasti akan menguras kantong agak dalam nih, walaupun gurunya sudah mengingatkan untuk membawa yang sederhana saja. Boleh bawa makanan saja atau souvenir saja. Untuk makanannya kami buat banana cake lagi seperti yang sudah pernah kami buat sebelumnya, tentu saja dengan pisang yang masih segar ya, walaupun pisang yang sudah coklat biasanya lebih manis untuk dibuat kue.
Rasanya kok kurang lengkap gitu kalo cuma bawa makanan kecil begitu, maklum kebawa habit di Indonesia yang isi goodiebag ulangtahunnya meriah banget. Kami berdua cari ide mau kasih apa ya buat teman-teman nanti supaya selalu ingat sama Arya dan tau harus menghubungi kemana kalo kangen. Akhirnya ketemu lah ide bikin pembatas buku yang ditempeli foto dan alamat email yang mama buatkan khusus untuk Arya, lalu di laminating. Seru banget prosesnya, mulai dari hunting kertas karton bermotif untuk pembatas bukunya, pilih foto yang bagus untuk di print, sampai laminating manual pake setrika pakaian, semua kami lakukan berdua. Hasilnya memang kurang rapih, tapi prosesnya yang paling penting. Ada rasa bangga saat Arya membagikan hasil jerih payahnya ke teman-teman dan gurunya. Gurunya pun appreciate sekali dan bilang bahwa ini ide yang sangat bagus sekali. Oh ya, selain pembatas buku, kami juga selipkan kartu pos yang sudah ditulis alamat kami di Indonesia, sehingga teman-teman nanti bisa kirim kartu pos nya. Semoga pertemanan mereka tetap terjalin hingga dewasa.

Banana cake

Seringkali saya kalau beli pisang, pasti tersisa 1 atau 2 buah, sampai kulitnya berbintik-bintik coklat bahkan sampai hampir coklat semua kulitnya. "Sayang ya Nak pisangnya ngga ada yang makan.." kata saya ke Arya, sedih.
"Kita bikin cake aja, Ma". Tapi kita ngga punya oven, berarti dikukus ya kuenya? "It's okay", kata Arya. Mulai cari-cari resep banana cake kukus. Ada doong ternyata. Cari yg paling simple, no mixer, no bake, karena ga punya, haha.

Caranya cuma lumat pisang lalu diaduk-aduk dengan bahan lain cukup pake garpu aja. Lalu tuang ke loyang yg sudah dioles mentega dan ditabur tepung. Lagi-lagi kami ga punya loyang yang cukup untuk masuk ke panci kukusan kami yang mungil. Mikir lagi, hmm pake wadah alumunium foil kayanya bisa deh. Jadinya 2 ronde kukusnya, karena adonan harus dibagi dua akibat wadah alumunium foil yg keciiil.
Setelah matang, Arya ngga sabar pengen icip. Ternyata dia suka dan sampe nambah-nambah.
"Pisangnya ngga jadi dibuang ya Ma, terus kita bisa pake bahan-bahan dan alat-alat yang ada kalo mau bikin sesuatu, ngga harus beli dulu". Yes, think creative ternyata juga berlaku untuk mengurangi food waste ya.

Ready or not? Here I come!

Setelah melalui suhu yang cukup tinggi karena heatwave minggu lalu, beberapa hari ini cuaca mendung, suhu mulai turun dan akhirnya kami merasakan hembusan semilir angin yang sejuuuk dan tidur malam tanpa gerah. Alhamdulillah..
Hawa sejuk ini tidak lain karena hujan yang lagi rajin turun beberapa
hari ini, jadi susah mau keluar rumah untuk main. Arya mulai bosan dan rewel karena kebutuhan tubuhnya untuk bergerak tidak bisa tersalurkan dengan baik. "Mamaa ayok maiin keluaar!". Hujan gini, malas lah mamanya keluar. Tiba-tiba Arya punya ide, kita main hide and seek aja yuk Ma, kan ga perlu tempat luas untuk lari-larian kalo hide and seek, perlunya tempat ngumpet aja.
Saya pikir seru juga main petak umpet ya, walaupun cuma berdua. Tapi ternyata saya belum bisa main petak umpet all out seperti waktu kecil dulu, yang heboh teriak-teriak, karena saat saya keluar dari tempat sembunyi dengan tiba-tiba, Arya masih suka kaget terus nangis 😂Tapi alhamdulillah ngga kapok sih..

The most wanted Jepit Jemuran

Seringkali ibu saya ngomel-ngomel, "kemana yaa jepit jemuran Nenek kok pada hilang yaaa?" Maklumlah, kami masih tinggal di rumah o...